Select Page

3 Alasan Harus Membangun Bisnis di Masa Resesi

3 Alasan Harus Membangun Bisnis di Masa Resesi

Foto: Ilustrasi/Istimewa

UMINEWS.COM, Apakah Anda salah satu orang yang sedang bingung untuk menentukan waktu yang tepat untuk memulai berbisnis? Disarankan, kenapa tidak sekarang saja, meski kondisi perekonomian sedang dalam kondisi resesi.

Pertanyaannya, kenapa di masa resesi? Apakah sudah menghitung risiko mengalami kerugian yang sangat besar?

Sepertinya Anda harus melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Justru di masa resesi ada peluang untuk membangun bisnis. Justru membangun bisnis di masa resesi hambatannya bisa lebih kecil atau sedikit dibandingkan di masa normal.

Saat kebanyakan perusahaan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sejumlah karyawannya, Anda bisa mendapatkan limpahan sumber daya manusia (SDM) bertalenta tinggi yang ‘dibuang’ oleh perusahaan-perusahaan tersebut.

Sebagai contoh, pada masa krisis keuangan tahun 2008, perusahaan rintisan bernilai miliaran Dolar Amerika seperti Uber, Airbnb, dan banyak lagi justru didirikan. Kemunculan perusahaan-perusahaan tersebut sebagai respon terhadap dinamika pasar yang berubah.

Berdasarkan pendapat Kauffman Foundation, justru di masa normal dari tahun 1978 sampai 2012, jumlah perusahaan baru yang muncul menurun hampir 44 persen.

Berikut 3 hal yang Anda akan dapatkan jika memulai bisnis di masa resesi:

1. Mendapatkan akses yang luas untuk mendapatkan SDM berkualitas

Di masa normal, untuk mendapatkan SDM yang berkualitas dan berbakat tidaklah mudah, karena Anda akan bersaing dengan perusahaan-perusahaan lainnya. Hal ini membuat calon karyawan tersebut pede karena merasa punya banyak pilihan untuk menentukan di mana ia akan bekerja.

Biasanya, salah satu faktor yang membuat SDM berkualitas dan berbakat, apalagi memiliki skill yang langka memutuskan bergabung dengan sebuah perusahaan pertimbangannya berdasarkan benefit (gaji) yang didapatnya sangat tinggi.

Berbeda di masa resesi, banyak perusahaan mapan bahkan startup memberhentikan, ‘merumahkan’ atau memotong gaji karyawannya karena permintaan pasar dan pendapatannya menurun.

Kesempatan ini memberikan Anda peluang untuk merekrut mereka. Bagi kamu seorang wirausaha pemula, kemampuan mereka sangat penting untuk pertumbuhan tahap awal perusahaan.

Kamu juga dapat mengandalkan skema kompensasi alternatif seperti pemberian saham untuk memikat calon karyawan. Sebab kompensasi tunai dan bonus menjadi lebih langka saat ini.

2. Waktu yang tepat untuk bernegoisasi biaya tetap

Seseorang yang hendak memulai suatu usaha biasanya dihadapkan pada biaya awal yang tinggi sebelum bisnisnya menghasilkan pendapatan.

Nah, di masa resesi akibat pandemi COVID-19 seperti sekarang ini merupakan waktu yang tepat untuk menegoisasikan biaya tetap (fixed cost) seperti biaya sewa gedung kantor.

Di saat masa serba sulit, biasanya para pemilik property memberikan penawaran-penawaran menarik dengan tujuan agar tercapainya kesepakatan, seperti memberikan keringanan permbayaran biaya sewa dengan skema yang lebih fleksibel.

Hal ini tentu mengurangi pengeluaran biaya para wirausahawan pemula agar bisa memulai bisnisnya. Dengan begitu Anda bisa menggunakan sumber daya modal yang ada untuk kepentingan pos-pos atau keperluan lainnya, misalnya biaya perekrutan karyawan dan promosi.

3. Lebih mudah mendapatkan pelanggan

Tantangan mendasar untuk memulai dan mengembangkan bisnis yang baru adalah mendapatkan pelanggan.

Di masa normal, Anda perlu kerja ekstra keras dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk membujuk konsumen mencoba sebuah produk yang terbilang baru atau beralih ke merek lain.

Banyak wirausahawan mengalami kegagalan melakukan ini, kendati sarana dan prasarananya cukup lengkap, bahkan ditunjang dengan modal yang besar.

Dalam kondisi resesi, biaya akuisisi pelanggan dapat menurun drastis. Pertama, karena pendapatan menurun serta rutinitas yang berubah sehingga harus disesuaikan.

Menyiasati kondisi seperti itu konsumen cenderung bersikap kompromis untuk mencoba produk dan layanan baru atau bahkan mengganti merek dari pilihan sebelumnya yang mereka pakai di saat kondisi keuangan normal.

Pada akhirnya, ketika perilaku dan rutinitas baru mengemuka, konsumen dapat mengadopsi produk dan layanan yang berbeda. Ini memberikan banyak peluang baru untuk akuisisi konsumen.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Update COVID-19

INDONESIA

N/A 557,877 Kasus
N/A 17,355 (3.1%) Meninggal
N/A 462,553 (82.9%) Sembuh
04 Dec 2020, 4:33 AM (GMT)

Ads

Hosting Unlimited Indonesia