Select Page

Ayah Bunda Ajari Anak Mandiri dan Disiplin Sejak Dini Yuk

Ayah Bunda Ajari Anak Mandiri dan Disiplin Sejak Dini Yuk

UMINEWS.COM, Dapat dipastikan seluruh orang tua akan berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, termasuk memilih pola asuh agar anaknya kelak menjadi orang yang mandiri dan disiplin.

Ada beberapa pilihan atau cara menarik yang dapat diterapkan, namun sepertinya model memberikan Reward and Punishment yang paling banyak dipraktikkan para orang tua di zaman sekarang ini, dan tidak ada salahnya patut dicoba. Hal tersebut dilakukan agar membiasakan adanya pemberian hukuman dan hadiah sebagai konsekuensi setiap tindakan anak-anak kita.

Seorang ibu yang foto-fotonya viral di media sosial memberikan contoh yang keren bagaimana sang anak akan mendapatkan uang dari ibunya. Ia memberikan daftar pekerjaan yang bisa menghasilkan uang.

Sementara itu, si anak pun bisa kehilangan uang jika ia melakukan perbuatan yang tak sepatutnya dilakukan sesuai perjanjian antara si anak dengan orang tuanya.

Nah, ketika si anak ingin jajan dengan menggunakan uang hasil dari ‘bekerja’, si ibu pun sudah menyiapkannya. Eits, namun semua jajan ada harganya yang bisa dibeli dengan uang yang si anak miliki hasil ‘bekerja’ yang dilakukannya tadi.

Pola asuh sederhana yaitu bagaimana membiasakan si anak harus kerja dulu sebelum dapat uang untuk beli keperluannya. Bisa banget nih dipraktikkan biar anak mau kerja keras, mandiri dan disiplin.

Pertanyaannya, di usia berapa anak sudah sepantasnya mulai diajarkan mandiri dan disiplin? Jawabannya, tidak ada batasan usia. Karena kebiasaan-kebiasaan baik yang dilatih sejak dini membantu membangun karakter si kecil, selain juga melatihnya untuk menjadi lebih mandiri. Ini sangat penting agar anak menjadi pribadi yang lebih baik kelak dewasa nanti.

Melatih kebiasaan baik kepada anak harus disesuaikan dengan usianya. Ini berkaitan dengan perkembangan otak, fisik, dan emosinya, juga kejadian-kejadian yang dialaminya setiap hari.

Dikutip dari laman Ibu dan Balita, terdapat dua hal penting yang dapat diajarkan kepada anak untuk menerapkan disiplin waktu. Keduanya adalah membuat tabel waktu dan memberikan penghargaan (reward and punishment).

Orang tua disarankan mengajari anak-anak membuat tabel waktu yang berisi jadwal kegiatan mereka sehari-hari. Misalnya, pukul 07.00, anak sudah harus di sekolah, pukul 12.00 waktunya makan siang, dan sebagainya.

Jika anak kita berhasil melakukan kegiatan melakukan kegiatan sesuai waktu yang telah ditentukan, berikan penghargaan yang bisa berupa apa saja sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Dengan cara seperti ini anak akan lebih bersemangat dan termotivasi melakukan aktivitas sesuai dengan jadwal.

Para orang tua sangat disarankan untuk tidak menggunakan kekerasan saat mengajarkan sikap disiplin terhadap anak-anaknya. Kekerasan justru dapat membuat anak menjadi lebih tidak disiplin, karena menganggap cara orang tua dalam mengajarkannya tidak menyenangkan.

Akan jauh lebih baik, apabila orang tua menanamkan nilai-nilai disiplin dengan menerangkan sejumlah alasan soal pentingnya ‘tepat waktu’ dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut adalah tips dan cara mengajarkan disiplin kepada anak sesuai dengan usianya:

1. Bayi

Bayi belajar dengan melihat apa yang orang tuanya lalukan. Jadi berikan contoh perilaku yang Anda harapkan. Gunakan bahasa positif untuk membimbing bayi. Misalnya, ‘saatnya duduk’ daripada ‘jangan berdiri’.

Hal lainnya, para orang tua sebaiknya mengucapkan kata ‘tidak’ hanya untuk masalah yang paling penting, seperti keamanan. Batasi mengatakan ‘tidak’. Akan lebih baik jika para orang tua meletakkan benda-benda berbahaya di luar jangkauan anak-anak.

Sangat lebih bijaksana orang tua mengalihkan atau mengganti objek berbahaya dengan benda lain yang boleh dimainkan adalah strategi yang baik daripada sering mengatakan ‘tidak’ atau ‘jangan’ kepada anak.

Jika Anda menggunakan jasa baby sitter atau penitipan anak, ingatkan kepada mereka untuk menerapkan standar yang sama saat Anda mengajari anak.

2. Balita

Perhatikan dan puji perilaku anak yang Anda sukai dan abaikan yang tidak Anda inginkan. Arahkan anak kembali ke aktivitas yang berbeda saat dibutuhkan.

Anak dapat bersikap emosional saat berjuang untuk menguasai keterampilan dan situasi baru. Antisipasi pemicu amarah, seperti kelelahan atau lapar, dan bantu anak menghindarinya dengan tidur dan makan tepat waktu.

Ajari juga anak untuk tidak memukul, menggigit, atau berperilaku agresif lainnya. Berinya contoh dengan senantiasa menghindari perilaku kekerasan saat mendidik anak dan menunjukkan secara konstruktif saat menyelesaikan konflik dengan pasangan,

Terpenting, orang tua harus konsisten dalam menegakkan aturan terhadap anak. Kalau terpaksa, longgarkan dalam waktu singkat saja. Selesaikan konflik antara adik dan kakak dengan cara tidak memihak.

Jika mereka berebut mainan, sebaiknya diatasi dengan menyingkirkan barang yang memicu konflik itu dari jangkauan mereka.

3. Usia Pra Sekolah

Anak-anak usia pra sekolah masih berusaha memahami bagaimana dan mengapa segala sesuatu bekerja dan apa efek tindakan mereka.

Sewaktu mereka mempelajari perilaku yang sesuai, perkirakan mereka akan terus menguji batas toleransi orang tua. Mulailah memberi tugas-tugas yang sesuai dengan usia, seperti menyingkirkan mainan. Berikan arahan sederhana, langkah demi langkah. Hadiahi mereka dengan pujian.

Para orang tua sebaikanya membiarkan anak membuat pilihan di antara sejumlah alternatif. Kita hanya perlu mengarahkan anak dan menetapkan batas yang masuk akal. Jelaskan bahwa kadang-kadang merasa marah itu baik-baik saja, tetapi seharusnya tidak dengan cara menyakiti seseorang atau merusak barang-barang. Ajari mereka menghadapi perasaan marah dengan cara positif, seperti membicarakannya.

4. Anak Usia Sekolah

Anak usia sekolah biasanya mulai mengerti makna benar dan salah. Bicaralah tentang pilihan yang mereka miliki dalam situasi sulit, pilihan yang baik dan buruk, juga apa yang akan terjadi akibat tindakan si anak.

Jelaskan juga tentang harapan keluarga terhadap anak dan konsekuensi jika mereka tidak memenuhinya. Berikan mereka tanggung jawab dan penghargaan secara seimbang kepada anak.

Para orang tua diharapkan tidak bosan-bosan mengajari dan memberikan contoh kepada anak tentang kesabaran, kepedulian, dan sikap hormat pada orang lain. Jangan biarkan anak menerima hukuman fisik dari orang tua sendiri apalagi dari orang lain, termasuk di sekolah.

5. Remaja

Saat anak berusia remaja, mereka biasanya sudah bisa mengambil keputusan dengan lebih mandiri. Orang tua sebaiknya memberikan dukungan kepada keputusan anak, tetapi juga memberlakukan aturan dan batasan yang jelas.

Terus tunjukkan banyak kasih sayang dan perhatian kepada anak. Orang tua perlu meluangkan waktu setiap hari untuk berbicara dengan anak. Para remaja cenderung membuat pilihan yang sehat jika mereka tetap terhubung dengan keluarga.

Kenali teman-teman anak dan bicarakan tentang hubungan yang bertanggung jawab dan terhormat.

Orang tua juga harus menghargai usaha, prestasi dan kesuksesan anak. Jangan ragu-ragu memberikan pujian terhadap anak yang menghindari perilaku buruk, seperti merokok, berkelahi atau minum alkohol.

Nah, dari jabaran di atas, sebaiknya para orang tua segera menerapkan pola asuh kepada anak-anaknya sehingga kelak dapat hidup mandiri dan disiplin.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Update COVID-19

INDONESIA

N/A 557,877 Kasus
N/A 17,355 (3.1%) Meninggal
N/A 462,553 (82.9%) Sembuh
04 Dec 2020, 4:52 AM (GMT)

Ads

Hosting Unlimited Indonesia