Select Page

Bisnis Sayuran Online Lagi Naik Daun, Ibu-ibu Zaman Now Senang Sekali Klik Saja

Bisnis Sayuran Online Lagi Naik Daun, Ibu-ibu Zaman Now Senang Sekali Klik Saja

Hubertus Wim Djanoko (nomor dua dari kanan), pemilik Sayur Home Delivery. (Foto: ISTIMEWA)

UMINEWS.COM, Sejak pandemi COVID-19 mewabah di wilayah Indonesia, banyak masyarakat dipaksa memutar otaknya agar bisa mendapatkan penghasilan tambahan. Hal itu juga dilakukan Hubertus Wim Djanoko yang merintis bisnis sayuran dengan brand-nya bernama ‘Sayur Home Delevery’.

Hubertus mengatakan, membuka bisnis usaha baru di tengah pandemi COVID-19 bisa dilakukan asalkan memiliki strategi yang tepat agar usaha tersebut bisa berkembang. Dirinya memilih jenis usaha sayuran karena kebutuhan primer masyarakat.

Hubertus bahkan berkeyakinan, prospek bisnis sayuran ke depannya memiliki prospek yang sangat bagus.

Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini banyak masyarakat yang lebih memilih untuk berdiam diri di rumah, tapi di satu sisi mereka membutuhkan makanan yang bergizi seperti syur-sayuran. Hubertus pun bersedia mengantarnya sampai ke rumah pelanggan.

“Dalam kondisi seperti ini masyarakat membutuhkan layanan penjualan sayuran yang terhubung dengan sistem layanan delevery. Jadi ketika terhubung dengan ke kanal digital, pasti lebih berprospek,” kata Hubertus Wim Djanoko.

Khususnya ibu-ibu, ungkapnya, sekarang ini lebih suka hal-hal yang praktis. Hanya meng-klik saja barang yang dipesannya diantar sampai ke rumah.

Seperti usaha-usaha lainnya, menurut Hubertus, berbisnis sayuran harus memiliki kreativitas yang tinggi agar bisa bersaing. Ini karena semakin banyaknya kompetitor baru yang bermunculan.

“Waktu saya mulai membuka usaha sayuran ini di bulan Maret 2020, jumlah pesaingnya masih sedikit. Saat itu omzet yang saya dapatkan cukup tinggi, tapi enggak lama kemudian sejak pemain baru bermunculan omzet yang saya dapat mulai menurun. Memang sih enggak terlalu siginifikan penurunannya,” imbuhnya.

Agar pelanggannya tetap loyal dan tetap memilih sayur-sayuran yang dijualnya, Hubertus sangat memperhatikan kualitas kesegaran sayuran tersebut.

“Saya tidak akan menjual sayuran dengan kualitas rendah kepada pelanggan. Higienisnya pun terjamin karena dikemas dengan baik dan rapih,” terang Hubertus.

Strategi lainnya yang ia terapkan yaitu dengan memanfaatkan berbagai platform e-commerce seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak, dan JD.ID agar pelanggannya semakin meluas di berbagai daerah.

Ia juga rajin mengikuti program yang ditawarkan beberapa perusahaan e-commerce seperti Tokopedia yang sedang menyelenggarakan program promo 10.10. Cara seperti ini selain bisa dikenal lebih banyak oleh pelanggan, promos tersebut juga bisa dipakai mereka untuk berbelanja,” paparnya.

Menurutnya, program-program seperti yang dilakukan Tokopedia tidak hanya membantu pelaku UMKM atau pedagang seperti dirinya, tapi juga membantu masyarakat.

“Kalau ada promo dari perusahaan e-commerce, bisnis sayuran saya lebih banyak yang laku, begitu juga dirasakan oleh mitra e-commerce lainnya. Sedangkan keuntungan untuk masyarakat harganya lebih murah,” pungkasnya.

Kualitas sayuran Indonesia lebih baik dari Vietnam dan Thailand

Sebagai informasi, produk-produk sayuran Indonesia digemari oleh masyarakat dunia, contohnya Jepang. Katsunori Kasugai, Presiden Nanyang Trading Co, perusahaan pengimpor produk sayuran dan rempah beku asal Indonesia mengatakan, meski sayuran asal Indonesia harganya lebih mahal jika dibandingkan dengan negara lain tapi kualitasnya terjamin.

sayuran-online

Dia pun menyebutkan beberapa produk sayuran dan rempah frozen yang diimpor dari Indonesia, antara lain bawang merah, pete, jengkol, jantung pisang, lengkuas, kunyit, serai, hingga bunga honje.

Lebih detail lagi dijelaskannya, dibandingkan dengan sayuran asal Vietnam dan Thailand, harga sayuran Indonesia lebih mahal 40 persen. Penyebanya, ongkos produk dari Indonesia memang sudah mahal, sedangkan volumenya kecil. Kendati demikian, secara kualitas produk pertanian Indonesia mampu bersaing.

Kasugai bilang, kualitasnya 30-50 persen lebih baik dibandingkan asal Vietnam dan Thailand.

“Jadi akan terus mengimpor dari Indonesia. Kami menjelaskan kepada pelanggan, bukan faktor harganya yang murah, tapi kualitasnya yang harus bagus,” ujarnya.

Di sisi lain, produk sayuran serta rempah frozen asal Vietnam dan Thailand seringkali dilarang oleh pihak karantina Jepang, sebab sering ditemui permasalahan.

Ke depannya, Katsugai berharap para produsen sayuran di Indonesia bisa berinovasi untuk menekan biaya produksi dan menambah jumlah produksi. Sehingga, baik secara kualitas dan harga bisa bersaing dengan produk-produk sayuran dari kedua negara tersebut.

Nah, bagi kalian yang ingin menggeluti bisnis sayuran seperti Hubertus Wim Djanoko disarankan segera memulai. Tidak perlu dalam skala besar, tapi dimulai sesuai dengan kemampuan dan jangkauan pasar.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Update COVID-19

INDONESIA

5803 563,680 Kasus
124 17,479 (3.1%) Meninggal
3625 466,178 (82.7%) Sembuh
04 Dec 2020, 6:13 AM (GMT)

Ads

Hosting Unlimited Indonesia