Select Page

Dyah Paramita, Desain Grafis yang Nyemplung Jadi Pengusaha Makanan Organik

Dyah Paramita, Desain Grafis yang Nyemplung Jadi Pengusaha Makanan Organik

Dyah Paramita (kanan), pelaku UMKM dengan nama brand Bakul Organik Naira foto bersama artis Tya Ariesta (tengah). (Foto: ISTIMEWA/Dok Dyah Paramita)

UMINews.com, Memiliki latar belakang pendidikan desain grafis, Dyah Paramita, 31 tahun, memanfaatkan ilmunya untuk membangun bisnis makanan organik, Bakul Organik Naira, yang tengah dirintisnya.

Sebelum menggeluti dunia bisnis, Dyah lebih dulu bekerja di sebuah perusahaan pakan ternak. Dari sini ia mengetahui bagaimana ternak-ternak tersebut diberi makanan apa saja.

“Saya jadi tahu apa aja sih pakan yang diberikan ke ternak-ternak itu. Mengandung bahan kimia atau enggak,” kata Dyah Paramita kepada UMINews.com, Minggu, 17 Januari 2021.

Sebenarnya, ketika memutuskan berwirausaha, Dyah tidak langsung di bidang penyediaan makanan organik. Ia lebih dulu mencoba berbagai jenis usaha.

Dirinya mulai kepo (ingin tahu) tentang makanan organik ketika hamil sampai anak pertamanya lahir. Ia kerap bertanya dan konsultasi kepada dokter atau ahlinya.

“Dokter waktu itu heran, anak saya normal kok, sehingga enak perlu makanan khusus seperti jenis gluten free atau makanan organik. Meski begitu dia tetap menjelaskan,” ujarnya.

Makanan-Organik

Toko Bakul Organik Naira di Perumahan Pondok Surya, Karang Tengah, Tangerang. (Foto: ISTIMEWA/Dok Dyah Paramita)

Berdasarkan alasan-alasan yang disebutkan di atas, pada 2016 Dyah mulai berbisnis makanan organik. Tak hanya menjual produk-produk yang dibuatnya sendiri, ia juga menjadi reseller beberapa produk milik orang lain.

Baca Juga:
  Berbagi dengan Penjuang Cilik Yuk Melalui Bakul Organik Naira

“Produk makanan organik yang saya buat sendiri di antaranya tempe organik, selai kurma, selai nanas, dan selai strawbery. Ada juga frozen sosis dari berbagai bahan seperti ayam kampung, daging sapi, dan sosis mix sayur,” terangnya.

Khusus nugget, Dyah menyebut saat mengolah dirinya tidak menggunakan tepung roti, tapi diganti dengan gluten free outmel.

Sedangkan beberapa produk yang diambilnya dari orang lain di antaranya berasal dari Yogyakarta dan Surabaya. Beberapa produk di antaranya adalah madu, lemon, minyak, mie, kecap, tepung beras, dan gula singkong.

Soal nama brand “Bakul Organik Naira”, Dyah mengatakan ada artinya. “Bakul itu kan wadah untuk semua makanan. Sedangkan Naira adalah nama anak saya,” kata Dyah menjelaskan.

Makanan-Organik

Beberapa produk Bakul Organik Naira. (Foto: ISTIMEWA/Instagram @bakul_organik)

Dyah menegaskan, ketika mengambil produk makanan organik dari orang lain, ia lebih dulu mencari tahu apa produk-produk tersebut sesuai dengan standar dan kualifikasi yang ia miliki.

“Saya banyak ikut WhatsApp Grup (WAG) makanan organik. Jadi bisa tanya ke sana ke mari. Tanya, kalau mengandung bahan ini manfaatnya apa, bagus enggak, dan sebagainya,” imbuhnya.

Mengenai strategi pemasaran, Dyah mengaku memanfaatkan latar belakang pendidikan dan pengetahuannya tentang teknologi dan digital untuk berbisnis. Pertama kali berjualan produk-produk makanan organik ia memasarkannya secara online, seperti melalui Instagram. Sedangkan berjualan secara offline atau membuka toko mulai dilakukannya Juli 2020 lalu.

Baca Juga:
  Awalnya Melampiaskan Stres, Lola Amaria Buka Usaha Kuliner

“Saya memanfaatkan salah satu bangunan di rumah saya untuk dijadikan toko,” ucap warga Perumahan Pondok Surya, Karang Tengah, Tangerang ini.

Soal harga, ia mengaku memang lebih mahal, yaitu produk yang dibuatnya sendiri dibanderol antara Rp45.000 hingga Rp70.000. Sedangkan yang diambil dari orang lain dijualnya seharga ratusan ribu.

Seperti pelaku usaha lainnya, Dyah merasakan pasang surut bisnisnya. Omzetnya sempat melonjak di awal masa pandemi, dan kini sedang surut. “Sekarang dalam satu bulan dapat Rp2 juta bersyukur banget,” imbuhnya.

Lebih baik menolak daripada kecewakan pelanggan

Dyah Paramita mengatakan pelanggannya tersebar di seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Marauke. Ia mengatakan pernah ada warga Papua minta dikirimkan makanan organik ke dirinya. Tapi, permintaan itu tidak langsung. Kata Dyah lagi, ia akan memperhitungkan terlebih dulu berapa hari produk tersebut akan sampai ke tangan pelanggan.

“Semua produk saya kan tidak menggunakan bahan pengawet, masa layak dikonsumsinya cepat. Jadi harus memperhitungkan berapa lama sampai ke pelanggan. Jangan begitu sampai sudah tidak layak dikonsumsi, saya enggak mau pelanggan kecewa,” ucap Dyah.

Makanan-Organik

Artis Tya Ariesta mempromosikan produk Bakul Organik Naira. (Foto: ISTIMEWA/Instagram @bakul_organik)

Tak hanya itu, bahkan tak sedikit dari pelanggan terlebih dulu konsultasi ke dirinya ketika hendak membeli suatu produk makanan organik untuk mengetahui manfaat, daya tahan makanan tersebut, dan sebagainya.

Baca Juga:
  Awalnya Jualan Produk Teman, Kini Unariah Jadi Produsen Cookies

Cara pengiriman ke luar daerah pun Dyah menetapkan prosedur ketat. Dia bekerja sama dengan perusahaan jasa ekspedisi yang bisa mengirimkan produk-produknya tanpa harus dimasukkan ke dalam freezer karena akan mengurangi kualitas makanan organik.

2 Comments

  1. Avatar

    Mantap salam kenal kaka

    Reply
    • Avatar

      Sukses selalu bunda.salam kenal ea bun 🙏🙏

      Reply

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Update COVID-19

INDONESIA

N/A 1,347,026 Kasus
N/A 36,518 (2.7%) Meninggal
N/A 1,160,863 (86.2%) Sembuh
03 Mar 2021, 8:57 AM (GMT)

Ads

Hosting Unlimited Indonesia