Select Page

Gultik Bulungan, Kuliner Malam Gaul di Selatan Jakarta

Gultik Bulungan, Kuliner Malam Gaul di Selatan Jakarta

Foto-foto: Istimewa

UMINEWS.COM, Banyak tempat makan di Jakarta  sekaligus dijadikan tempat nongkrong, khususnya bagi kalangan anak muda. Salah satunya yang tidak pernah sepi dari adalah gulai di Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan yang terkenal dengan sebutan Gultik, kependekan dari Gulai Tikungan.

Lokasinya yang sangat strategis dan mudah dicapai. Tak jauh dari Terminal Blok M dan berdampingan dengan pusat perbelanjaan Blok M Plaza. Setiap hari para pedagang gultik buka dari pukul 17.00 WIB sampai 04.00 WIB.

Dulu, kata Tondon, bisa berjualan 24 jam. Tapi sekarang pengelola Blok M Plaza hanya memperbolehkan dari sore sampai menjelang adzan subuh.

Meski tergolong kuliner kaki lima, para pelanggan yang datang betah berlama-lama nongkrong di sana. Sambil menikmati hidangan gultik yang khas rasanya, mereka dihibur oleh lantunan lagu-lagu dari pengamen-pengamen jalanan yang silih berganti datang.

Kita tinggal pilih, mau makan di sebelah mana. Ada belasan pedagang gultik yang berjualan, salah satunya adalah Mas Tondo.

Seperti yang dijelaskan di atas, Gultik merupakan singkatan dari Gulai Tingkungan. Tempat wisata kuliner legendaris ini ada sejak tahun 1980-an.

Pelanggannya pun beragam, dari bermobil sampai pejalan kaki. Dari pelajar, remaja, pekerja kantoran, sampai rombongan keluarga.

Mas Tondo mengaku berjualan gultik sejak tahun 1984. Awalnya Mas Tondo yang waktu itu masih sekolah hanya membantu pamannya.

Kata Mas Tondo, sebelum menetap berjualan di Bulungan, pamannya berjualan gulai berkeliling.

“Paman saya diajak temannya untuk berjualan di bulungan. Saat itu yang berjualan hanya tujuh pedagang gulai aja. Tapi sejak itu paman saya enggak pernah keliling lagi, hanya jualan di sini,” ujar Mas Tondo.

Tempat mangkal Mas Tondo yakni di trotoar bagian belakang Blok M Plaza atau di seberang kedai Ayam Bakar Ganthari.

Katanya, melanjutkan cerita, di awal berjualan di Bulungan ia dan pamannya sempat ragu apa ada pembelinya. Namun semakin hari semakin banyak yang datang.

Begitu pamannya pensiun, Mas Tondo bertekad melanjutkannya. Sekarang ini setiap harinya ia dibantu oleh salah seorang pelanggannya untuk melayani pelanggannya.

Setiap hari Mas Tondo mengaku dapat menjual 100 porsi. Bahkan di hari-hari tertentu seperti weekend bisa menjual 200 porsi lebih dalam satu hari.

Menariknya, meski sekarang sudah ada sekitar 20 pedagang gulai di bulungan, Mas Tondo mengatakan, tetap banyak pelanggan yang datang ke tempatnya. Begitu juga dengan pedagang gultik lainnya. “Semuanya ramai pelanggan. Kita enggak pernah khawatir enggak laku,” tuturnya.

Punya bumbu rahasia

Ditanya apa resepnya sehingga membuat banyak pelanggan yang datang ke tempat mangkalnya, Mas Tondo mengaku tidak punya resep khusus.

“Setiap pedagang punya resep masing-masing, juga berbeda cara masaknya. Tapi rasanya hampir semua sama. Saya sendiri punya bumbu rahasia warisan paman saya,” katanya.

Gulai yang dijual di gultik Bulungan merupakan gulai sapi. Pedagang biasanya menggunakan beberapa bagian sapi seperti urat, tetelan, lemak, dan jeroan.

Dalam penyajiannya, seporsi gulai dicampur dengan nasi, lalu disiram dengan kuah santan yang tidak begitu kental dan rasanya gurih, ditambah taburan bawang goreng, kecap, dan kerupuk.

Untuk yang menyukai pedas, bisa mencampurkan dengan sambal yang disediakan di dalam mangkuk. Dijamin bagi yang belum pernah merasakan akan ketagihan dan nambah seporsi atau beberapa porsi lagi.

Soal harga, sangat murah. Satu porsi dijual hanya Rp10 ribu. Selain itu Mas Tondo juga menyediakan sate usus, ampela, dan telur puyuh sebagai variasinya dengan harga satuan Rp5.000.

Bangku plastik tanpa meja makan

Bagaimana cara menyantap gultiknya? Sepertinya pada umumnya kita makan di rumah makan atau restoran, yaitu menggunakan piring dan sendok, tapi di sini tanpa garpu.

Namun jangan berharap ada meja. Satu telapak tangan pelanggan memegang piring berisi gulai, dan satu tangan lagi memegang sendok untuk menyuapkan ke mulut. Jika sudah selesai, piring yang berukuran kecil bisa ditaruh di bawah bangku plastik yang kita duduki. Simpel kan.

Sebelumnya, ungkap Mas Tondon, para pedagang Gultik alias Gulai Tikungan menyediakan meja kecil, tapi sudah tidak perbolehkan dipergunakan lagi oleh pengelola Blok M Plaza.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Update COVID-19

INDONESIA

5803 563,680 Kasus
124 17,479 (3.1%) Meninggal
3625 466,178 (82.7%) Sembuh
04 Dec 2020, 5:21 AM (GMT)

Ads

Hosting Unlimited Indonesia