Select Page

Impian Ati Diantini, Ingin Buat Pameran Tunggal Kain Tenun Asli Baduy

Impian Ati Diantini, Ingin Buat Pameran Tunggal Kain Tenun Asli Baduy

Ati Diantini (kanan) saat berkunjung ke rumah pengrajin kain tenun Baduy. (Foto: Instagram @makebajutenunbaduy)

UMINews.com, Kecintaannya terhadap kain tenun Baduy tidak perlu diragukan lagi. Ati Diantini berharap kelak dirinya dapat menggelar pameran khusus kain tenun Baduy.

Ati menceritakan kecintaan dirinya pada kain tenun Baduy berawal ketika suaminya dipindahtugaskan ke Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak.

“Tahun 2017 suami saya dipindahkan tugasnya. Sebelumnya dia di Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Lebak,” jelas Ati, Rabu, 23 Desember 2020.

UMKM-Tenun

Anggota DPR RI Moch Hasbi Asyidiki  Jayabaya (kiri pertama) dan istri berkunjung ke stand Shagira Fashion di pameran UMKM se-Indonesia di Kemayoran, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. (Foto: Instagram @makebajutenunbaduy)

Meski asal Bandung, Jawa Barat, Ati dan keluarga tinggal di Provinsi Banten, tepatnya di Komplek Siliwangi Regency, Blok F No. 9, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak sejak 12 tahun lalu.

Lanjut Ati bercerita, sejak berkantor di Dinas Koperasi dan UKM Lebak, setiap kali pulang ke kampung halamannya di Bandung, suaminya selalu membawa produk-produk kerajinan tangan Banten, salah satunya kain tenun Baduy.

UMKM-Tenun

Pasangan artis Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar mengenakan pakaian kain tenun Baduy Shagira Fashion. (Foto: Instagram @makebajutenunbaduy)

Wanita berusia 51 tahun yang memiliki paras cantik dan terlihat awet muda ini mengatakan, hampir setiap kali ke Bandung, kerajinan tangan Baduy ludes dibeli teman-teman dan saudaranya seperti batik, gantungan kunci, makanan dan madu. Justru yang tersisa hanya kain tenun Baduy.

Baca Juga:
  Ke Kampung Naga Yuk, Wisata Budaya Sambil Berburu Kerajinan Tradisional

“Mungkin karena harganya yang mahal ya. Menurut saya sih wajar mahal karena proses pembuatannya memakan waktu dan tingkat kerumitannya cukup tinggi,” imbuhnya.

UMKM-Tenun

Mantan Menteri ATR/Kepala BPN Ferry Mursidan Baldan (kanan), membeli pakaian berbahan kain tenun Baduy yang diproduksi Shagira Fashion. (Foto: @makebajutenunbaduy)

Sepulang dari Bandung, Ati dan suami mampir ke rumah kakaknya di Jakarta. Mengetahui dirinya membawa kain tenun Baduy, kakaknya terkejut. Saat itulah ia mendapatkan patner untuk berbisnis pakaian kain tenun Baduy.

“Kakak saya memang pintar ngedesain. Kami sepakat, dia bagian desain, saya yang mengontrol produksi dan marketing, akhirnya berdiri deh Shagira Fashion,” ujar alumni Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung ini.

UMKM-Tenun-Baduy

Foto: Instagram @makebajutenunbaduy

Seiring bekerja sama dengan sang kakak, Ati semakin gencar mempromosikan pakaian dari kain tenun Baduy. Sudah cukup banyak pameran yang diikutinya. Selain itu ia bergabung ke dalam berbagai komunitas UMKM di antaranya Komunitas UMKM Unpad dan Masyarakat Uminiaga Indonesia (Maunesia).

“Saya juga UMKM binaan Bank Indonesia (BI), BRI, dan pernah ditawari ikut pelatihan oleh Kementerian Tenaga Kerja agar pakaian dari kain tenun Baduy ini bisa menembus pasar internasional,” ungkap Ati Dianitini.

Tak ingin hanya menjalankan sisi bisnisnya saja, Ati juga mulai mempelajari dan mengenal kehidupan sehari-hari masyarakat Baduy. Ternyata kain tenun yang dibuat masyarakat Baduy memiliki makna dan ada filosofinya. Mengetahui itu ia semakin jatuh cinta terhadap kain tenun Baduy. “Dengan mengenal keseharian masyarakat Baduy jadi dasar saya membuat pakaian dan busana,” imbuhnya.

UMKM-Tenun-Baduy

Foto: Instagram @makebajutenunbaduy

Semakin hari Ati merasa memiliki tanggung jawab secara moral untuk memberitahu atau menjelaskan kepada masyarakat luas mana kain tenun asli Baduy atau yang hanya mengaku-ngaku saja. Baginya kain tenun Baduy memiliki nilai historis dan seni yang tinggi, juga tentunya bernilai ekonomi yang tinggi pula.

Baca Juga:
  1.564 Pelaku UMKM Ikuti Pelatihan Go Digital 2020

Ia mencontohkan beda kain tenu Baduy dengan jumputan. Karena cintanya terhadap busana tradisional itu, dia tidak mau memberikan kain tenun Baduy ke sembarangan penjahit dengan alasan harus benar-benar tahu bagaimanan cara memotong dan menjahitnya.

Ingin membuat pameran kain tenun Baduy

Ke depannya, Ati Diantini berkeinginan membuat pameran khusus kain tenun Baduy. Tanpa bermaksud membeda-bedakan strata sosial di masyarakat, ia ingin menggelar di hotel berbintang lima.

Ati menjelaskan kenapa harus di hotel mewah, karena harga pakaian dari atau berbahan kain tenun Baduy cukup mahal.

“Selama ini yang beli orang-orang yang status ekonominya menengah ke atas seperti artis, pejabat negara, anggota DPR RI, dan dosen,” terangnya.

UMKM-Tenun-Baduy

Foto: Instagram @makebajutenunbaduy

Keinginannya yang lain yaitu berkolaborasi dengan salah satu pesantren di Lebak, Banten. Ati mengaku sudah melakukan penjajakkan dengan memperhatikan desain yang dibuat para santri. Diakuinya, desain yang dibuat sudah bagus dan menarik. Tapi dia belum tahu kualitas jahitannya.

“Seperti yang saya katakan, tidak hanya desain saja, tapi kualitas jahitannya juga harus bagus. Sayang kalau jahitannya tidak bagus,” tukasnya.

“Karena tidak mau menyia-nyiakan saya berencana ingin membuat produk lain dari kain tenun Baduy seperti tas dan sebagainya yang diambil dari sisa menjahit pakaian,” pungkas Ati Diantini.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Update COVID-19

INDONESIA

10365 927,380 Kasus
308 26,590 (2.9%) Meninggal
8013 753,948 (81.3%) Sembuh
19 Jan 2021, 12:41 PM (GMT)

Ads

Hosting Unlimited Indonesia