Select Page

Ke Kampung Naga Yuk, Wisata Budaya Sambil Berburu Kerajinan Tradisional

Ke Kampung Naga Yuk, Wisata Budaya Sambil Berburu Kerajinan Tradisional

Seorang warga Kampung Naga mengajarkan kepada peserta 'Wisata Edukasi Tematik Nusantara' Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) cara membuat kerajinan tangan. (Foto: Dok Kemenparekraf RI)

UMINews.com, Tahukan Anda, di Jawa Barat ada Kampung Naga. Salah satu objek wisata budaya yang sangat sayang dilewatkan. Selain menikmati pemandangan alam yang asri, kita bisa sambil berburu barang kerajinan tradisional.

Kampung Naga terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawi, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, atau sekitar 500 meter dari jalan raya utama Garut-Tasikmalaya. Selain bertani, pekerjaan utama warga di Kampung Naga yaitu membuat kerajinan tangan untuk dijual ke wisatawan.

Mereka memanfaatkan bahan bambu, kayu, dan rotan untuk membuat berbagai macam kerajinan tangan seperti caping, keranjang bambu, piring, hingga seruling dan sandal.

Kampung Naga menjadi salah satu daerah di Indonesia yang dikenal sangat ketat menjaga ada istiadat leluhurnya (adat Sunda). Warga di kampung ini menolak diintervensi oleh pihak luar, apalagi dengan orang yang ingin merusak kelestarian lingkungan mereka.

wisata-budaya-kampung-naga

Sesepuh Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawi, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat menemui rombongan Kemenparekraf. (Foto: Dok Kemenparekraf RI)

Naga berasal dari kata Nagawir, yang dalam bahasa Sunda berarti tebing terjal. Penamaan ini diyakini memberi pemahaman lansekap tentang ruang hidup mereka.

Keunikan permukiman adat tradisional Kampung Naga terletak pada konsep filosofi, bahan yang digunakan, dan bentuk bangunan tempat tinggal yang adaptif dengan mitigasi kebencanaan.

Baca Juga:
  Bangkitkan Pariwisata Indonesia, Kemenparekraf Libatkan Mahasiswa

Berada di hulu Sungai Ciwulan, warga Kampung Naga dikenal sangat menjaga ketersediaan air agar terus mengalir. Mereka juga sangat menghormati hutan sebagai sesuatu yang keramat.

wisata-kampung-naga

Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawi, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: Dok Kemenparekraf RI)

Untuk sampai Desa Neglasari, Jumat (20/11/2020), rombongan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI yang di dalamnya ada mahasiswa dan komunitas pariwisata menggunakan kendaraan roda empat dengan jarak tempuh 30 Km dari Kota Tasikmalaya atau 36 Km dari Kota Garut.

Setiba di Desa Neglasari, rombongan Kemenparekraf masih harus menuruni sebanyak 400 anak tangga yang terbuat dari batu alam.

Namun, rasa lelah terbayar lunas begitu menyaksikan keindahan hutan, hamparan sawah terasering dan gemericik air Sungai Ciwulan yang mengalir jernih di sisi jalan setapak Kampung Naga.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern masyarakat Kota Tasikmalaya, ternyata penduduk Kampung Naga masih memegang teguh ada istiadat dan kepercayaan nenek moyangnya.

Mereka hidup juga menyatu dengan alam, tanpa adanya aliran listrik. Begitu pula cara memasak yang bertahan menggunakan tungku dengan bahan bakarnya kayu, meski tidak ada larangan menggunakan barang-barang elektronik berteknologi modern.

“Emang sih ada beberapa rumah punya TV, tapi menggunakan aki,” ucap Sahyan, salah seorang sesepuh di Kampung Naga.

Meski begitu, lanjut Sahyan, anak-anak di desa tersebut bersekolah seperti layaknya anak-anak pada umumnya.

penduduk-kampung-naga

Foto: Dok Kemenparekraf RI

Sehari-hari, lanjut Sahyan, masyarakat Kampung Naga yang bermata pencaharian sebagai petani senantiasa hidup rukun karena berpegang teguh pada warisan budaya leluhurnya. Buktinya, jika masih ada sisa hasil berkebun mereka silih berganti memberi ke tetangga.

Baca Juga:
  Kopdar Maunesia: Komunitas UMKM Harus Bisa Berikan Solusi Untuk Anggotanya

“Saat panen, harus dikonsumsi oleh satu keluarga dulu. Kalau ada sisa dibagikan ke tetangga. Kalau masih ada sisa lagi boleh dijual ke pasar,” ungkap Sahyan.

Foto: Dok Kemenparekraf RI

Keunikan lainnya yaitu, rumah penduduk di Kampung Naga masih terbuat dari kayu atau bambu. Sedangkan atapnya terbuat dari daun nipah atau ijuk. Selain itu, di dalam rumah tidak diperbolehkan ada perabotan seperti kursi. Sementara untuk kamar mandi dan kandang ternak harus berada di luar rumah.

Puas memandang keindahan alam dan terkagum dengan cara hidup warga Kampung Naga, wisatawan bisa membeli produk-produk kerajinan tangan masyarakat setempat sebagai oleh-oleh khas Kampung Naga.

wisata-kampung-naga

Foto: Dok Kemenparekraf RI

Menurut salah seorang mahasiswa Perguruan Tinggi Pariwisata di Bandung, Ica, yang ikut rombongan Kemenparekraf mengaku penasaran dan ingin melihat secara langsung kehidupan masyarakat keturunan Sunda Wiwitan ini.

“Sebelumnya saya dapat cerita dari teman tentang Kampung Naga. Saya penasaran ingin datang ke sini. Setidaknya saya bisa belajar dan mengetahui budaya setempat dan kearifan lokalnya yang masih terjaga dengan baik,” ucap Ica.

kerajinan-tangan-kampung-naga

Hasil kerajinan tangan warga Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawi, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: Dok Kemenparekraf RI)

Dia pun berencana akan kembali lagi di kemudian hari bersama keluarga atau teman-temannya.

“Sepulang dari Kampung Naga ini, saya akan cerita ke keluarga dan teman-teman. Saya mau ajak mereka datang ke sini,” pungkas Ica.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Update COVID-19

INDONESIA

10365 927,380 Kasus
308 26,590 (2.9%) Meninggal
8013 753,948 (81.3%) Sembuh
19 Jan 2021, 12:35 PM (GMT)

Ads

Hosting Unlimited Indonesia