Select Page

Keluhan Produsen Sarung Tangan Motor di Masa Pandemi

Keluhan Produsen Sarung Tangan Motor di Masa Pandemi

Sejumlah karyawan sedang memproduksi sarung tangan merek Northy. (Foto-foto: Dok Northy)

UMINEWS.COM, Tak bisa dibantah, pandemi COVID-19 telah mengganggu kegiatan dan perputaran roda bisnis sehingga memaksa para pelaku pengusaha harus memutar otak mengatasi mati surinya kegiatan ekonomi tersebut. Salah satunya produsen sarung tangan kulit Northy.

Salah satu owner Northy, Ilham Setia Pradana mengatakan di masa pandemi COVID-19 hampir semua toko yang menjual sarung tangan Northy tutup. Ia pun langsung bersikap dengan merubah model pemasaran dari offline menjadi online.

Ilham bercerita, di awal pandemi COVID-19 omsetnya menurun dari ratusan juta jadi puluhan juta. Namun hal itu perlahan-lahan bisa diatasinya.

“Di awal pandemi memang omset penjualan kami turun drastis. Sempat sebulan pemasukannya hanya puluhan juta. Menyiasati kondisi seperti ini kami mencoba berjualan melalui online di berbagai macam market place,” ucap Ilham di Yogyakarta, Senin, 28 September 2020.

Tidak mau tanggung-tanggung, Ilham memutuskan menggencarkan promosi atau cara berjualan melalui online. Hasil yang didapatkannya cukup memuaskan.

Ilham mengaku memahami seluk-beluk bisnis berbasis kulit sejak lama karena orang tuanya menggeluti usaha serupa. Beranjak dewasa, ia mulai tertarik utnuk menggeluti lebih dalam usaha yang sama.

Tetapi, lantaran harus memproduksi puluhan ribu sarung tangan dari kulit setiap bulannya, dengan sistem manajemen tingkat pemula, Ilham dan koleganya kewalahan. Apalagi dia merasa keuntungan yang diperoleh dari skema kerja sama tersebut tidak sebanding dengan lelah yang dialaminya.

Di tahun 2017 Ilham merubahnya jadi manufaktur, tapi hanya bertahan satu tahun saja. Ia kembali kewalahan, kali ini karena harus mempekerjakan sekitar 60 karyawan, sementara manajemen perusahaan belum bagus, sehingga membuat dirinya sering tekor setiap bulannya menutupi gaji karyawan.

Dari pengalamannya itu di mengaku mendapat pelajaran berharga, sekaligus memberanikan diri untuk menciptakan brand atau merek sendiri bernama Northy.

Diungkapkannya, penggunaan nama merek Northy itu tidak asal-asalan melainkan ada makna yang terkandung dan terselip harapan di dalamnya.

Dijelaskan Ilham, Northy berpatokan pada arah mata angin ‘North’, yang diartikan dalam bahasa Indonesia yaitu ‘Utara’, di mana dia selalu tampak dalam koordinat paling atas di peta.

“Arah utara itu yang selalu dilihat orang-orang. Di Yogyakarta saja, patokannya juga utara. Kalau kelihatan Gunung Merapi, itu berarti utara. Kita ingin orang-orang (pelanggan) itu melihat ke arah kita, ke arah Northy,” jelas alumni Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini.

Keberanian dan keuletan Ilham membuahkan hasil. Dalam kurun waktu tiga tahun, Northy telah berhasil menyentuh konsumen di berbagai daerah di seluruh Tanah Air. Selain di Yogyakarta, offline store Northy juga ada di Jakarta, Bandung, Solo, Bali,dan Lampung.

Ilham pun menyebut, omset yang diraih dari hasil berjualan sarung tangan kulit merek Northy berkisar Rp150 juta setiap bulannya.

Selain secara offline dan online, lanjut Ilham Setia Pradana, pihaknya juga rutin mengikuti pameran atau event-event di luar kota. Menurutnya, hal seperti ini untuk semakin memperkenalkan produk Northy kepada masyarakat.

Owner Northy lainnya, Iksal Nuari Adha menambahkan, produk sarung tangan kulit Northy bisa mendapat tempat di masyarakat karena memiliki keunggulan. Ia memberitahu, produk sarung tangan berbahan kulit domba yang proses produksinya dilakukan secara manual. Dengan alasan itu harganya terbilang cukup mahal yakni mulai Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per buah, mengingat kualitas materialnya sangat terjamin.

“Sejak masih bulu domba itu dalam kondisi mentah sampai menjadi sarung tangan, kita olah sendiri. Karena kita membuatnya sendiri, kita bisa memastikan kualitas materialnya,” tutur Iksal.

Dia menjelaskan, produksi sarung tangan tidak dibuat di Yogyakarta, melainkan di Klaten, Jawa Tengah. Bukan tanpa alasan, hal itu karena peralatan produksi berada di Klaten dan jika dipindahkan ke Yogyakarta akan memakan biaya yang cukup besar. Iksal pun menyatakan optimis sarung tangan Northy tetap menjadi pilihan utama masyarakat meski di masa pandemi COVID-19.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Update COVID-19

INDONESIA

N/A 522,581 Kasus
N/A 16,521 (3.2%) Meninggal
N/A 437,456 (83.7%) Sembuh
28 Nov 2020, 3:09 AM (GMT)

Ads

Hosting Unlimited Indonesia