Select Page

Kenapa UMKM Indonesia Sulit Naik Kelas, Ini Penyebabnya

Kenapa UMKM Indonesia Sulit Naik Kelas, Ini Penyebabnya

Presiden Joko Widodo menghadiri pameran UMKM beberapa waktu lalu. (Foto: ISTIMEWA)

UMINEWS.COM, Beberapa pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sulit ‘naik kelas’ alias berkembang. Apa sih yang menjadi penyebabnya UMKM bisa naik kelas?

Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung Ina Primiana mengatakan, setidaknya ada tiga masalah yang harus diselesaikan agar UMKM bisa naik kelas.

“Ketiga masalah itu adalah minimnya pusat data (database), kemampuan bersinergi, dan keterkaitan (linkage) yang menyulitkan UMKM di Indonesia untuk bangkit dan naik kelas, apalagi di masa pandemi COVID-19 seperti sekarang ini,” kata Ina Primiana melalui siaran persnya, Jumat (23 Oktober 2020).

Kata Ina, jika ada database akan mempermudah mencari tahu mana saja pelaku UMKM yang sudah naik kelas, yang jalan di tempat, dan sudah mendapatkan bantuan.

Terpenting, kika database itu ada maka semua info tentang pelaku UMKM bisa diakses secara terbuka, yang pada akhirnya bisa digunakan sebagai alat membantu UMKM sesuai sektor masing-masing.

Menurut Ina, merupakan sebuah keharusan adanya data yang komprehensif tentang atau pelaku-pelaku UMKM untuk bisa dibaca siapa pun baik di tingkat Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota.

Lalu, masalah yang kedua adalah seluruh pemangku kepentingan harus mampu bersinergi lebih kuat dalam membantu UMKM. Sinergi harus dilakukan karena saat ini ada puluhan dari tingkat pusat hingga daerah yang memiliki pengembangan UMKM. Agar pengembangan UMKM dapat dilakukan dengan masif maka harus diimbangi dengan kejelasan pembangian tugas di antara mereka.

Pembagian peran tersebut akan meminimalisir potensi terjadinya tumpang tindih program dan penyaluran bantuan kepada pelaku UMKM.

Kata Ina lagi, sinergi antar instansi juga dipercaya menjadi pintu masuk untuk mengembangkan kualitas produk UMKM Indonesia.

“Percuma jika pelaku UMKM menerapkan digitalisasi jika tidak diimbangi dengan meningkatnya kualitas produk mereka,” ujarnya.

Baginya, jika kualitas produk UMKM tidak memiliki atau kurang berdaya saing dan tidak disukai konsumen maka pada akhirnya tersingkir dengan sendirinya.

“Jadi pembinaan itu harus benar-benar dilakukan, harus diajarkan bagaimana caranya agar mereka naik kelas. Dengan begitu UMKM akan naik kelas,” imbuh Ina Primiana.

Berikutnya, kata Ina, perlu diperlihatkan atau dipertegas mana produk UMKM dalam negeri dan mana buatan luar negeri. Spesifikasi perbedaan itu penting karena sebagai dasar untuk memberikan insentif.

“Harus dibedakan, ini sebagai dasar memberikan insentif kepada UMKM yang produktif dengan UMKM yang hanya menjual barang-barang impor,” terangnya.

Masalah ketiga yang harus diselesaikan adalah minimnya keterkaitan (linkage) antara UMKM dengan pemerintah atau pelaku industri besar. Mantan Komisaris Utama PT Pegadaian (Persero) ini menyebutkan, pembangunan jaringan antara UMKM, pemerintah dan pelaku usaha besar harus dilakukan untuk membantu penyerapan produk-produk UMKM.

Saat ini, Ina menyebutkan bahwa UMKM mengalami kesulitan ketika hendak menjual produk-produknya, apalagi di masa pandemi COVID-19 masyarakat lebih memilih menahan bersikap konsumtif. “Saat ini daya beli masyarakat sedang turun, tapi juga merupakan waktu yang tepat bagi pemerintah dan industri besar untuk membantu agar produk-produk UMKM terserap,” ucap Ina.

Ungkap Ina Primiana, linkage UMKM dengan industri besar di Indonesia masih terbilang kecil, baru sekitar 6 persen, jika dibandingkan dengan Malaysia yang sudah mencapai 40 persen.

Di sisi lain, Ina juga menyoroti masih besarnya pekerjaan rumah pemerintah Indonesia agar bisa mendorong pelaku UMKM yang mayoritas di sektor informasi agar menjadi formal.

Dia bilang, formalisasi usaha ini dipercaya bisa memberikan kepastian umum, pendanaan, perluasan pasar, dan peningkatan kualitas UMKM di Indonesia.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Update COVID-19

INDONESIA

5803 563,680 Kasus
124 17,479 (3.1%) Meninggal
3625 466,178 (82.7%) Sembuh
04 Dec 2020, 5:21 AM (GMT)

Ads

Hosting Unlimited Indonesia