Select Page

Menteri Erick Ingin Bentuk Holding UMKM, Ekonom Senior: Pemikiran yang Sesat

Menteri Erick Ingin Bentuk Holding UMKM, Ekonom Senior: Pemikiran yang Sesat

Ekonom senior Faisal Basri menyebutkan wacana membentuk holding BUMN merupakan pemikiran yang sesat. (Foto: ISTIMEWA)

UMINews.com, Ekonom senior Faisal Basri menegaskan persoalan yang dihadapi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) tidak hanya persoalan permodalan atau pembiayaan saja, tapi masih banyak lagi.

Dengan begitu, dia mengkritik jika pemerintah atau pihak manapun jika menyimpulkan persoalan yang dihadapi UMKM hanya seputar permodalan atau pembiayaan saja.

Faisal Basri mengatakan itu untuk menanggapi rencana Kementerian BUMN yang ingin membentuk holding terkait sektor UMKM.

Adapun holding yang dimaksud terdiri dari 3 perusahaan berpelat merah yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebagai perusahaan induk, PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero).

Lebih detail lagi menjelaskan, pelaku UMKM juga memerlukan pasar, melakukan inovasi, akses teknologi, dan sebagainya.

Meski begitu diakuinya, mayoritas pelaku UMKM di Tanah Air sedang membutuhkan bantuan permodalan atau pembiayaan, apalagi di era pandemi COVID-19 seperti sekarang ini untuk dapat tetap tumbuh. Akan tetapi, persoalan yang dihadapi mereka justru lebih dari sekadar pembiayaan.

Katanya, untuk dapat berkembang, para pelaku UMKM membutuhkan akses ke informasi, akses pasar, dan akses teknologi untuk jadi lebih produktif, efisien dan tangguh.

“Jadi, pemerintah harus membantu menyelesaikan masalah-masalah mendasar yang dihadapi para pelaku UMKM,” tukasnya.

Baca Juga:
  Dadan Suparlan, Pendiri Management Social Enterprise Wadahnya UMKM Cianjur

Kembali lagi soal Ia pun mengingatkan kepada Kementerian BUMN soal rencana dibentuknya holding UMKM, bahwa ada perbedaan bisnis yang mencolok dari ketiga perusahaan pelat merah yang disebutkan di atas, sehingga pembentukan holding yang mengurus UMKM ini terkesan dipaksakan meski tidak ada kecocokan di antara ketiganya.

Dipaparkannya, bisnis BRI selama ini lebih fokus untuk melayani segmen UMKM yang sudah bankable maupun segmen korporasi. Sedangkan bisnis PMN lebih cenderung untuk perusahaan yang relatif baru, sehingga perlu yang namanya modal ventura. Sementara arah bisnis Pegadaian adalah membantu masyarakat yang mengalami kesulitan likuiditas jangka pendek.

“Setiap jenis usaha punya karakteristik tertentu, tidak bisa dipukul rata dong, enggak bisa digandengkan. Saya contohkan ya, pecel enak, steak enak, sayur asem enak. Tapi kalau digabung rasanya seperti apa. Justru hasilnya membuat orang enggak mau makan makanan yang digabung-gabung itu,” ucap Faisal Basri.

Dengan alasan itu, Faisal Basri meminta kepada Menteri BUMN Erick Thohir membatalkan rencana holding yang mengurus UMKM tersebut. Tanpa tendeng aling-aling ia menyatakan, jika rencana itu merupakan pemikiran yang sesat.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Update COVID-19

INDONESIA

N/A 1,347,026 Kasus
N/A 36,518 (2.7%) Meninggal
N/A 1,160,863 (86.2%) Sembuh
03 Mar 2021, 8:43 AM (GMT)

Ads

Hosting Unlimited Indonesia