Select Page

Sukses Berbisnis Hijab, Mama Muda Ini Ekspansi ke Dunia Pendidikan

Sukses Berbisnis Hijab, Mama Muda Ini Ekspansi ke Dunia Pendidikan

UMINEWS.COM, Mengawali berbisnis sejak kuliah, Intan Hapsari kini merambah memiliki dua unit usaha, yakni di bidang hijab dan pendidikan. Mama muda berusia 27 tahun ini menceritakan bagaimana perjuangnya merintis bisnisnya.

Lulusan Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sultan Agung Tirtayasa (Untirta), Banten ini mengatakan dia memulai bisnis hijab pada semester lima, atau sekitar tahun 2013. Modal pertamanya adalah uang bulanan sebesar Rp500 ribu dari orang tua.

Dengan memanfaatkan uang jajan tersebut, dia membeli hijab dari Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Hasil ‘kulakan’-nya kemudian dijual kepada teman-teman kampusnya.

“Dulu saya dikasih uang jajan sama ibu bulanan. Saya berpikir bagaimana cara memutar uangnya,” kata Intan Hapsari.

Ia menyarankan kepada kaum milenial yang ingin menjadi seorang wirausaha harus bisa menyingkirkan rasa gengsi.

“Awalnya saya banyak mikir, terutama gengsi. Orang kira kita enggak punua uang, paling untungnya berapa,” tuturnya.

Intan memutuskan membuang jauh rasa gengsi itu dan mulai ‘enjoy’ berdagang hijab.

Langkah berikutnya Intan memberi nama produknya. Ia menceritakan bahwa nama Agniya berasal dari guru ngajinya.

“Nama Agniya dari Asmaul Husna, Al-Ghaniyu, artinya yang Maha Karya. Kata guru ngaji saya, supaya saya jadi orang kaya. Saya percaya sebuah nama adalah doa, jadi saya ikuti saran beliau,” jelas wanita kelahiran 14 Mei 1993 ini.

Di tengah meningkatnya permintaan hijab, Intan mengaku sempat merambah ke pakaian impor bekas yang dibelinya di Pasar Senen. Namun usaha ini tidak diteruskan meskipun mendapat keuntungang yang cukup besar.

“Pakaian bekas yang saya beli sebelum dijual saya laundry. Dapat untung Rp5 juta dalam dua minggu,” ungkap Intan.

Mendapat Bantuan Modal

Bisnis hijabnya semakin berkembang setelah mendapatkan bantuan dana dari program Wirausaha Pemula (WP) yang diselenggarakan Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM).

Berbekal saran kakaknya, Intan mencoba ikut Gerakan Kewirausahaan Nasional. Alhasil, Intan berhasil lolos seleksi proposal bisnis WP dan berhak mendapatkan bantuan dana dari Kemenkop UKM sebesar Ro14 juta.

Bantuan dana tersebut membuat geliat bisnisnya semakin kokoh dan dia semakin percaya diri. Intan menggeser pola bisnisnya dari yang awalnya membeli produk jadi, berubah memproduksi sendiri. Bahan hijab dibeli di Bandung, Jawa Barat dengan cara mengajak kerja sama dengan penjahit.

“Sekarang saya bisa memproduksi dua kali dalam seminggu antara 600-700 potong hijab dalam sebulan,” ucapnya bangga.

Berapa omset dalam sebulan yang didapat? Intan menyebutkan kisaran Rp5 juta sampai Rp7 juta dalam sebulan.

“Lumayan bukan. Tapi saya enggak melulu soal uang ya. Bagi saya jadi pengusaha itu lebih kepada seberapa manfaat hadirnya usaha kita untuk orang lain,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Intan, ia memasarkan hijab Agniya melalui system online dan reseller. Ia sudah bermitra dengan 25 reseller yang tersebar di berbagai kota di Indonesia, di antaranya Cilegon, Rangkasbitung, Serang, Serpong, Bogor, Bekasi, dan Pontianak.

“Sebanyak 15 reseller. Saya belum pernah ketemu mereka, tapi saya kirim aja barangnya (hijab). Siapa pun yang mau menjadi reseller tidak saya tolak,” kata Intan.

“modal saya hanya percaya pada mereka, dan Alhamdulillah sampai sekarang saya belum pernah ada masalah atau ditipu reseller. Saya sangat menjaga hubungan baik dengan reseller,” tambahnya.

Diakui Intan, reseller merupakan ujung tombak pemasaran produk Agniya, apalagi di tengah persaingan bisnis hijab yang semakin ketat.

Sukses dengan berbisnis hijab, sejak September 2018 lalu mama muda ini ini mulai merambah bisnis bidang pendidikan, dengan mendirikan Rumah Belajar Agniya. (sbh)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Update COVID-19

INDONESIA

5803 563,680 Kasus
124 17,479 (3.1%) Meninggal
3625 466,178 (82.7%) Sembuh
04 Dec 2020, 4:48 AM (GMT)

Ads

Hosting Unlimited Indonesia